ADITCJ

Copas-an Dari Forum-Forum

Noordin M Top, Teroris Yang Bisek

Jakarta, Penemuan tim forensik UI mengenai bentuk dubur corong pelaku teror Noordin M Top beberapa hari waktu lalu cukup mengejutkan. Dari segi anatomi tubuh, bentuk dubur corong memang tidak normal. Pertanda apakah itu?

“Memang benar dubur corong itu adalah ciri penikmat sodomi dan penderita biseksual. Bentuk corong muncul karena adanya tekanan penis yang masuk ke dalam lubang dubur. Karena sering dimasukin, akhirnya bentuk bagian paling luarnya melebar dan membentuk corong ke bagian dalamnya,” ujar pakar andrologi dan seksolog, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS ketika dihubungi detikhealth, Jumat (2/10/2009).
Orang yang terbiasa disodomi, menurutnya memang akan memiliki bentuk dubur demikian. “Itulah yang membedakan orang normal dan biseksual, dan bentuk itu nggak bisa muncul hanya dengan sekali atau dua kali masuk saja,” ujar Kepala Bagian Andrologi dan Seksologi serta Ketua Pusat Studi Kedokteran Anti Penuaan (Anti-Aging Medicine) yang tercatat sebagai Diplomat American Board of Sexology dan Fellow American Academy of Clinical Sexologists itu.

Ketika ditanya berapa lama muncul bentuk corong di dubur, Wimpie menjawab “Ooo..bisa tahunan bikin bentuk kayak gitu,” ucapnya. Wimpie mengatakan, perilaku biseksual tidak bisa diketahui sekilas lewat fisik semata. “Ya nggak bisa kalau cuma lihat tampilan luarnya saja,” ucap Wimpie.

Perilaku biseksual bisa disebabkan karena gangguan kromosom, gangguan perkembangan masa kecil dan pengaruh lingkungan. Sementara penyakit bawaan atau kecelakaan tidak bisa menyebabkan bentuk dubur seperti itu.

“Nggak ada pengaruhnya semua itu. Intinya kan harus ada yang masuk kesitu, jadi kalau hanya kecelakaan atau penyakit nggak mungkin seperti itu,” imbuh Wimpie.

Hingga kini belum ada obat yang bisa menyembuhkan penderita biseksual. “Penderita biseksual akibat gangguan kromosom nggak bisa diobati, kalau sudah begitu terima kodrat saja. Tapi kalau perilakunya itu karena pengaruh lingkungan mungkin masih bisa diobati dengan terapi,” jelas dokter yang mendapatkan gelar seksolog dari University of Washington, Amerika Serikat tersebut.

Wimpie mengatakan bahwa perilaku biseksual bisa menimpa siapa saja, bahkan orang macho sekalipun. “Itu bisa terjadi pada siapapun, nggak ada yang hubungannya dengan orang macho yang wataknya keras sekalipun. Kan nggak ada aturannya harus yang melambai-lambai saja yang bisa berperilaku biseksual,” tutur Wimpie.

Meskipun kegiatan sodomi termasuk kegiatan tidak normal, namun risiko penyakitnya tidak ada jika kedua belah pihak sama-sama sehat. “Mungkin cuma lecet-lecet saja sedikit. Penyakit lainnya seperti kanker nggak akan terjadi kalau dua-duanya sama-sama sehat,” ujarnya.

Definisi biseksual sebenarnya tidak sederhana, namun yang pasti perilaku biseksual adalah orientasi seks yang mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis dan hasrat seksual kepada pria maupun wanita.

Di dalam skala 0-6 orientasi seksual yang dibuat oleh Alfred C. Kinsey, biseksual umumnya berada di skala 1-5 secara stabil. Artinya, biseksual tidak memiliki ketertarikan secara eksklusif kepada salah satu jenis kelamin saja. “Jadi kanan kiri oke,” ujar Wimpie.

Kelompok biseksual sangat beragam, setidaknya ada 13 jenis tipe biseksual. Beberapa orang yang biseksual berkomitmen dengan monogami tapi banyak juga yang sering berganti pasangan. Faktor penyebab terbesar untuk perilaku biseksual adalah lingkungan.

Untuk mengetahui apakah seseorang punya perilaku biseksual atau tidak, ada 4 tanda berikut seperti dikutip Health24, Jumat (2/10/2009).
1. Bingung terhadap orientasi seksual
2. Mencoba mencari tahu tentang perilaku biseksual yang menyimpang
3. Menyadari perilaku seks diri sendiri yang menyimpang namun tetap mempertahankan perilaku tersebut
4. Melakukan perubahan pada alat kelaminnya

7 October 2009 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: