ADITCJ

Copas-an Dari Forum-Forum

Tips Agar Nyaman Berkendara Roda Dua

Ini bukan jurus Kenny Robert Jr. ngebut di sirkuit balap motor GP 500.
Tapi kiat terampil mengendarai sepeda motor atau skuter agar aman dan
nyaman melaju di jalan raya dengan memahami lebih dulu bagaimana gaya
gerak bekerja pada kendaraan dua roda.

Harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian melonjak mendorong pengguna
jalan raya makin pilih-pilih soal jenis kendaraan pribadinya.
Mobil-mobil ber-cc kecil yang irit BBM makin digemari. Tak sedikit pula
yang akhirnya mengadopsi tunggangan kendaraan dua roda (KDR) seperti
sepeda motor atau skuter. Alasannya, tak hanya irit tapi juga murah
biaya perawatannya, beragam modelnya, dan nyaris antimacet.
Anda yang memilih KDR tentu harus siap berbasah-basah jika hujan, dan
berpanas ria jika hari terang. Kelemahan lain, tidak bisa membawa banyak

barang maupun penumpang. Juga, seperti kata Michael Doohan, mantan
jawara dunia balap motor GP 500, naik motor lebih besar risikonya
ketimbang mobil.

Untuk itu risiko yang ada sebaiknya justru dipelajari dan diketahui cara

mencegahnya. Cara belajar terbaik tentu dengan terus mencoba menemukan
teknik yang sesuai dan meningkatkan “jam terbang” di atas sadel KDR.
Namun, pengalaman saja belum cukup. Perlu diikuti penguasaan sebanyak
mungkin informasi tentang rambu-rambu lalu lintas, pemahaman kondisi
psikologis pengguna jalan, dan tentunya KDR Anda sendiri.

*Memahami tiga gaya*

Konfigurasi dua roda pada setiap KDR amat menentukan kenyamanan
berkendara. Kedua ban KDR akan bergesekan dengan permukaan jalan,
menimbulkan apa yang populer disebut daya cengkeram. Daya ini
dipengaruhi tiga gaya yaitu gaya gerak (/driving force/), gaya rem
(/braking force/), dan gaya belok (/side force/).

Gaya gerak dihasilkan oleh mesin dan diteruskan ke roda belakang melalui

rantai (beberapa KDR tidak pakai rantai tapi /propeller shaft/ layaknya
mobil, namun ini tidak populer). Gaya inilah yang mendorong KDR bergerak

ke depan. Untuk memperlambat atau menghentikan laju gerakan KDR
dimunculkanlah gaya rem melalui pengereman (deselerasi). Sementara gaya
belok muncul saat KDR berbelok, dan hanya karena gaya inilah kendaraan
bisa berubah arah. Gaya ini juga penting dalam menjaga keseimbangan dan
pengendalian KDR.

Ketika tuas gas KDR ditarik (akselerasi), seluruh gaya muncul di roda
belakang karena distribusi berat KDR cenderung bergeser ke belakang.
Pada akselerasi bertahap, besarnya /driving force/ sekitar 67% dari
total gaya yang mampu diterima oleh ban. Pada akselerasi mendadak, ban
atau roda depan bisa terangkat akibat berat KDR sepenuhnya berpindah dan

bertumpu pada ban belakang. Sedikit /side force/ (9%) akan timbul pada
kedua ban, dan sekitar 8,5% /braking force/ muncul di ban depan akibat
gesekan dengan permukaan jalan.

Kecuali pada kasus akselerasi mendadak, tak akan ada masalah besar
dialami pengendara.

Ketika KDR dipacu pada kecepatan konstan, gaya-gaya yang timbul pada
kedua ban itu minimum. Ban depan menerima sekitar 3% gaya gerak dan 10%
gaya belok. Sementara pada ban belakang muncul 8% gaya belok dan 10%
gaya gerak. Sisa gaya yang dominan pada kedua ban disebut /reserve
force/ atau gaya cadangan yang masih mampu diterima ban. Dalam kondisi
demikian pengendara merasakan gangguan minimum dari KDR sehingga KDR
paling mudah dikendalikan. Problem akibat gaya belok itu relatif kecil.
Sejumlah besar gaya cadangan masih mungkin diubah bentuknya menjadi gaya

gerak untuk mempercepat laju kendaraan. Daya cengkeram ban pada
permukaan jalan yang baik memberi keleluasaan bermanuver, pengendalian,
mengelak secara mendadak (/swerving/), dan pengereman mendadak (/panic
braking/).

Masalah mulai timbul ketika KDR berbelok pada kecepatan tinggi karena
ban depan akan menerima 83% /side force/ dan 5% /braking force/.
Sedangkan pada ban belakang akan timbul 75% /side force/ dan 20%
/driving force/. Gaya cadangan amat kecil terutama di ban belakang
sehingga kalau ada gangguan sedikit saja, KDR bisa sulit dikendalikan
karena misalnya ban belakang /ngepot/ bahkan tergelincir. Makanya, Anda
harus berhati-hati saat berbelok.

Ketika KDR direm, distribusi berat KDR bergerak ke depan sehingga rem
depan akan lebih efektif. Pada ban depan akan timbul 66% /braking force/

dan 8% /side force/. Ban belakang lebih “sengsara” lagi karena /braking
force/ memakan 80% porsi gaya yang bisa diterimanya di samping adanya
/side force/ sekitar 9%.

Itulah mengapa, ketika direm, roda belakang lebih dulu terkunci atau
selip (/skid/), sebab gaya cadangan untuk mencengkeram permukaan jalan
tinggal 5% saja. Sudah begitu gaya belok yang 9% itu ikut memperparah
keadaan karena ban belakang tak hanya selip dan meluncur di atas
permukaan jalan, tapi juga sedikit /ngepot/ ke kanan atau ke kiri. Ini
mempersulit pengendalian dan memperpanjang jarak pengereman sampai KDR
berhenti.

*Berkendara aman dan nyaman*

Mengendarai KDR pada hakikatnya menyiasati tiga gaya yang timbul pada
kedua ban KDR agar selalu di bawah kapasitas yang dapat diterima ban.
Artinya, gaya cadangan harus selalu tersedia untuk mengantisipasi segala

kemungkinan yang ada selama berkendara. Ada beberapa cara yang dapat
dilakukan agar tetap nyaman dan aman menjelajah jalanan dengan KDR Anda.

1. Sesuaikan tekanan ban dengan rekomendasi pabrik. Tekanan terlalu
tinggi membuat pengendaraan KDR kasar (/bumping/), daya cengkeram
terhadap jalan turun, dan ban cepat aus. Sebaliknya, tekanan ban terlalu

rendah menyebabkan pengendalian menjadi berat, boros BBM, dan menurunkan

kemampuannya KDR bermanuver. Penambahan tekanan 1 – 2 psi dianjurkan
agar tak perlu terlalu sering memompa ban.

2. Ketika berbelok, posisi bukaan gas harus tepat. Bukaan gas yang
terlalu tinggi menyebabkan ban belakang selip, bahkan tergelincir,
akibat gaya sentrifugal. Sebaliknya, jika sudut kemiringan KDR terlalu
besar tanpa dibarengi bukaan gas yang cukup, KDR bisa terjatuh.

3. Posisi gigi transmisi – terutama saat berbelok – mesti sesuai.
Kecepatan rendah pada posisi gigi tinggi menjadikan mesin seolah akan
mati karena putaran mesin tidak sinkron dengan putaran roda, KDR
melonjak-lonjak, kestabilan menurun, dan pengendaraan tidak nyaman.

4. Pengereman sebaiknya tidak hanya mengandalkan roda belakang,
melainkan keduanya agar jarak pengereman minimum. Jika hanya roda
belakang yang direm, walaupun sampai terkunci, KDR tetap meluncur dengan

buntut KDR /ngepot/ ke samping. Sebaliknya, jika hanya menggunakan rem
untuk roda depan, meski tidak sampai terkunci, KDR bisa menukik (/brake
dive/), bahkan terjungkal ke depan.

5. Banyak pengendara KDR menekan tuas rem depan hanya dengan jari tengah

dan telunjuk agar dua jari lainnya dapat membuka gas segera setelah tuas

rem ditarik. Ini mempercepat akselerasi. Namun, ada pula yang
menganjurkan keempat jari menekan tuas rem demi pengontrolan pengereman
yang lebih mantap. Memang tidak ada petunjuk mana yang paling tepat,
sebab semua itu tergantung pada kebiasaan dan efektivitas yang dirasakan

pengendara.

6. Penggunaan rem depan dengan tepat membutuhkan teknik yang harus
dicoba hingga menjadi kebiasaan spontan dan otomatis, sebab keadaan
darurat bisa muncul tiba-tiba tanpa memberi kesempatan berpikir. Banyak
kasus KDR terjungkal saat terjadi /panic braking/ akibat pengereman roda

depan secara brutal.

7. Mesin KDR umumnya berisi hanya satu atau dua silinder sehingga harus
bekerja pada putaran mesin (rpm) tinggi yaitu 6.000 – 7.000 rpm. Karena
rpm ini lebih tinggi daripada rpm mobil, maka umur oli mesin KDR sangat
terbatas. Untuk menghindari kerusakan jangan sampai terlambat mengganti
oli mesin dengan jenis yang dianjurkan pabrik. Bahaya akibat
keterlambatan penggantian oli mesin KDR lebih tinggi daripada mobil.

8. Usahakan agar posisi KDR tidak menyusahkan mobil yang melaju di
belakangnya: jika hendak disusul, KDR terlalu ke tengah, atau jika tidak

disusul, KDR terlalu lambat jalannya. Terutama jangan dilakukan di jalan

sempit atau hanya terdiri dari dua jalur. Ini demi keselamatan semua
pihak karena jika terjadi manuver mendadak atau /panic braking/,

14 October 2009 - Posted by | Teknologi

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: